Papua.Utusanindo.com.KEEROM,- Cetak Sawah Rakyat ( CSR ) di Kabupaten Keerom seluas 15.000 hektar merupakan program startegis dalam rangka mendukung ketahanan pangan.
15 ribu hektar yang disiapkan oleh Pemkab Keerom untuk CSR tersebut tersebar di Disrik Skanto, Arso Barat, Arso Timur, Mannem dan Distrik Senggi.
Bupati Keerom Piter Gusbager menjelaskan bahwa Program CSR di negeri tapal batas itu merupakan inisiatif Pemerintah pusat yang diturunkan ke pemerintah provinsi di selurun indonesia.
Berdasarkan kajian ilmiah yang dilakukan oleh salah satu universitas ternama yang bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, menunjukan bahwa kualitas tanah yang ada di Kabupaten Keerom hampir sama dengan kualitas tanah di pulau jawa dan cocok untuk pengembangan sawah.
” berdasarkan kajian ilmiah, Keerom berada di urutan pertama dari segiĀ kelayakan lahan di wilayah Provinsi Papua untuk cetak sawah”, ungkapnya pada kamis ( 30/4/26 ).
Bupati 2 periode ini menegaskan bahwa 15 ribu hektar lahan yang disiapkan oleh pemerintah ini merupakan lahan sekunder atau lahan tidur yang selama 5 tahun terakhir tidak diolah.
” kita tidak buka hutan primer, hutan lindung, atau hutan adat. Kita buka lahan sekunder atau lahan tidur yang sudah 5 tahun terakhir tidak difungsikan”,tegasnya.
Untuk itu dirinya meminta kepada masyarakat Keerom agar tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu miring yang berusaha menghalang-halangi niat baik pemerintah demi kesejahteraan masyarakat Keerom.
” Saya dan Gubernur Papua menjamin bahwa 15 ribu hektar lahan ini tetap menjadi milik masyarakat. Ko makan nasi dari tanahmu sendiri, ko punya beras dari tanahmu sendiri, ko tidak tunggu beras datang dari Surabaya”, ungkapnya.
Kesempatan itu, Piter Gusbager juga menyinggung terkait kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh beberapa perusahaan yang masuk dan beroperasi di Keerom atas izin masyarakat adat.
” Perusahaan yang masuk di Keerom dan merusak lingkungan kalian tidak ribut, terus pemerintah masukan program cetak sawah kalian ribut”, tegasnya.
Ia menambahkan bahwa semenjak memimpin Keerom 2 periode, dirinya telah mengembalikan hampir 30 ribu hektar tanah adat dari 3 perusahaan kepada masyarakat adat.(nic)






